JAKARTA – Guna memperkaya wawasan dan membangun jaringan langsung dengan industri, puluhan mahasiswa Fakultas Televisi (FTV) Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kunjungan dinas ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Rabu (15/5). Kegiatan yang bertajuk “Studi Industri Kreatif Audio-Visual” ini menjadi ajang konkret untuk mengamati langsung ekosistem pendidikan seni yang berbeda, sekaligus membuka peluang kolaborasi antar dua institusi terkemuka.

Rombongan yang terdiri dari mahasiswa semester akhir program studi Penyiaran dan Produksi Media ini disambut langsung oleh Dekan Fakultas Film dan Televisi IKJ, Dr. Ari Jatmiko. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan teknologi dan tren konten. “IKJ dan FTV ITB memiliki kekhasan masing-masing. Sinergi seperti ini sangat berharga untuk saling menginspirasi dan membentuk bahasa visual masa depan Indonesia,” ujarnya.

Kunjungan berlangsung interaktif, dipandu oleh para dosen dan mahasiswa IKJ. Para peserta dari ITB diajak berkeliling menelusuri fasilitas pendukung seperti studio shooting film, laboratorium pascaproduksi dengan teknologi terbaru, dan perpustakaan khusus koleksi film. Mereka juga menyaksikan langsung proses praktik mahasiswa IKJ dalam sesi editing dan sound design untuk sebuah film pendek.

“Sangat inspiratif. Kami melihat pendekatan yang lebih hands-on dan artistik di sini. Ini melengkapi perspektif teknis dan manajerial yang kami dapatkan di kampus,” ungkap Rendra, salah satu mahasiswa peserta kunjungan.

Titik puncak acara adalah diskusi panel bersama alumni IKJ yang telah sukses berkarir di industri, baik sebagai sutradara, cinematographer, maupun produser. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, membahas tantangan riil di lapangan, mulai dari pembiayaan produksi, distribusi film, hingga strategi bertahan di era platform streaming.

Dosen pendamping dari FTV ITB, Ahmad Wijaya, M.Sn., menilai kunjungan ini mencapai tujuannya. “Ini bukan sekadar studi banding, tapi benchmarking dan networking. Mahasiswa tidak hanya melihat fasilitas, tetapi merasakan atmosfer kreatif dan membangun relasi yang suatu hari nanti bisa jadi pintu kolaborasi.”

Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) awal antara kedua pihak, yang membuka peluang untuk pertukaran mahasiswa, guest lecture, dan proyek seni bersama di masa depan. Kunjungan dinas ini membuktikan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pertemuan langsung dengan denyut nadi industri kreatif.

Share the Post:

Related Posts

Mahasiswa Berprestasi

Di tengah riuh rendah kampus yang sarat akan rutinitas akademik, nama Aisyah Ramadhani telah menjadi simbol bahwa prestasi sejati adalah perpaduan antara

Read More